Cari Blog Ini

31/05/2025

Apa Pentingnya Menggugat Ijazah Pak Jokowi?

Salah satu isu yang dianggap penting dan mendapat perhatian di tanah air pada Mei 2025 -tepatnya Pak Jokowi tidak lagi menjadi Presiden RI- adalah kliam terhadap ijazah Jokowi. Satu kelompok mengkliam bahwa ijazah Pak Jokowi palsu. Sedangkan Pak Jokowi beserta kelompok yang mendukung ijazah beliau adalah asli.

Kelompok yang mengatakan ijazah Pak Jokowi palsu berdasarkan keahlian pada bidang dan analisis masing-masing. Sedangkan Pak Jokowi kekeh mengatakan beliau memiliki ijazah asli walaupun sampai saat ini belum tampak beliau menunjukkan aslinya. Tuduhan ijazah palsu ini berujung pada laporan dan pemeriksaan pihak berwajib.

Pada 31 Mei 2025, di tengah-tengah kasus isu ijazah palsu ini, Pak Ngabalin nimbrung. Sudah lama tak ada kabar, sekali ada kabar nimbrung masalah ijazah Pak Jokowi. Hehehe. Selain isu daripada ijazah Pak Jokowi muncul tentang flek yang ada di wajah Pak Jokowi (sumber: youtube Tribun Jateng). Waduh, viral ni. Saya tidak menyangka bahwa Pak Jokowi begitu mendapat perhatian bahkan masalah flek saja diperhatikan. Bahkan ada yang mengaitkan flek hitam yang ada di wajah Pak Jokowi dengan campur tangan Tuhan dengan mengatakan bahwa jalur langit sudah bekerja.

Dalam hal ini, saya memiliki pandangan yang berbeda. Apa yang kita bicarakan dan dengarkan dalam berbagai forum tentang ijazah palsu tujuannya apa sih? Apakah ada orang yang diuntungkan dalam isu ini? Apakah jika memang terbukti palsu akan merubah keadaan negara saat ini? Apakah Pak Jokowi akan mengembalikan gaji dan fasilitas yang diterimanya selama ini? Tentu banyak pertanyaan-pertanyaan yang lain.

Menjadi rakyat intelektual yang kritis perlu. Namun jangan sampai isu ini menutupi dan menyoroti hal-hal penting di negara kita. Jangan sampai isu ini menjadi tirai bagi masyarakat untuk mengetahui hal urgen yang terjadi di negara besar yang kita cintai ini. 

Bagi yang memiliki pandangan terbaik silahkan sampaikan pada kolom komentar dengan bahasa yang baik.

30/05/2025

Hadis Kitab Arbain An-Nawawiyah Hadis Nomor 4 dan Terjemahannya

 عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ الـمَصْدُوْقُ: إِنَّ أَحَدَكُمْ يـجمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُـمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُـمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُـمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الـمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلـِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الـجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الـجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا. رواه البخاري ومسلـم

Artinya:

Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Mas’ud ra., dia berkata: “Rasulullah saw. telah bersabda kepada kami dan beliau adalah orang yang selalu benar dan dibenarkan, “Sesungguhnya setiap orang diantara kamu dikumpulkan kejadiannya di dalam rahim ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nuthfah (air mani), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama waktu itu juga (empat puluh hari), kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging) selama waktu itu juga, lalu diutuslah seorang malaikat kepadanya, lalu malaikat itu meniupkan ruh padanya dan ia diperintahkan menulis empat kalimat: Menulis rezekinya, ajalnya, amalnya, dan nasib celakanya atau keberuntungannya. Maka demi Alloh yang tiada tuhan selain-Nya, sesungguhnya ada di antara kamu yang melakukan amalan penduduk surga dan amalan itu mendekatkannya ke surga sehingga jarak antara dia dan surga kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapkan atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk neraka sehingga dia masuk ke dalamnya. Dan sesungguhnya ada seseorang diantara kamu yang melakukan amalan penduduk neraka dan amal itu mendekatkannya ke neraka sehingga jarak antara dia dan neraka hanya kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapka atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk surga sehingga dia masuk ke dalamnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis Kitab Arbain An-Nawawiyah Hadis Nomor 3 dan Terjemahannya

 عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الـخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَـمِعْتُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مـُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ. رواه البخار ومسلـم

Artinya:

Dari Abu Abdirrahman Abdulloh bin Umar bin Khoththob ra., dia berkata “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Islam itu dibangun di atas lima perkara, yaitu: Bersaksi tiada sesembahan yang hak kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan salat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke Baitullah, dan berpuasa pada bulan Romadan.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis Kitab Arbain An-Nawawiyah Hadis Nomor 2 dan Terjemahannya

 عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ: بَيْنـما نَـحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُـحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مـُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ: صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَـمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الـمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَـمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الـحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُـمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُـمَّ قَالَ: يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ؟ قُلْتُ: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَـمُ. قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّـمُكُمْ دِيْنَكُمْ. رواه مسلـم

Dari Umar ra. juga, beliau berkata: Pada suatu hari ketika kami duduk di dekat Rasulullah saw., tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Pada dirinya tidak tampak bekas dari perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Kemudian ia duduk di hadapan Nabi saw., lalu mendempetkan kedua lututnya ke lutut Nabi, dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya, kemudian berkata,  “Wahai Muhammad, terangkanlah kepadaku tentang Islam.” Kemudian Rasulullah saw. menjawab, “Islam adalah engkau bersaksi tiada sesembahan yang hak disembah kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah. Hendaklah engkau mendirikan salat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadan, dan mengerjakan haji jika engkau mampu mengerjakannya.” Orang itu berkata, Engkau benar.” Kami menjadi heran, karena dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkannya. Orang itu bertanya lagi, “Lalu terangkanlah kepadaku tentang iman”. (Rasulullah) menjawab, Hendaklah engkau beriman kepada Allah, beriman kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, hari akhir, dan hendaklah engkau beriman kepada taqdir yang baik dan yang buruk.” Orang tadi berkata, “Engkau benar.”

Lalu orang itu bertanya lagi, “Lalu terangkanlah kepadaku tentang ihsan.” (Beliau) menjawab: “Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun jika engkau tidak dapat (beribadah seolah-olah) melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihat engkau.”

Orang itu berkata lagi: “Beritahukanlah kepadaku tentang hari kiamat.” (Beliau) mejawab: “Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.” Orang itu selanjutnya berkata: “Beritahukanlah kepadaku tanda-tandanya.” (Beliau) menjawab, “Apabila budak melahirkan tuannya, dan engkau melihat orang-orang Badui yang bertelanjang kaki, yang miskin lagi penggembala domba berlomba-lomba dalam mendirikan bangunan.” Kemudian orang itu pergi, sedangkan aku tetap tinggal beberapa saat lamanya. Lalu Nabi saw. bersabda, “Wahai Umar, tahukah engkau siapa orang yang bertanya itu?”. Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Lalu beliau bersabda: “Dia itu adalah malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” (HR. Muslim).

29/05/2025

Hadis Kitab Arbain An-Nawawiyah Hadis Nomor 1 dan Terjemahannya

عَنْ أَمِيْرِ الـمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الـخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَـمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: إِنَّـمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّـمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى؛ فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ. رواه إماما الـمـحدثين أبو عبد الله مـحمد بن إسـماعيل بن إبراهيم بن الـمغيرة بن بردزبة البخاري وابو الـحسين مسلـم بن الـحجاج بن مسلـم القشيري النيسابوري في صحيـحيهما اللذين هما أصح الكتب الـمصنفة

Artinya:

Dari Amirul Mu’minin, Abu Hafsh Umar bin Khattab ra., dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu sesuai apa yang menjadi tujuannya (niatnya).” (Diriwayatkan oleh dua imam ahli hadits; Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrohim bin Mughiroh bin Bardizbah Al-Bukhori dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusairy An-Naisabury di dalam kedua kitab mereka yang merupakan kitab paling shahih diantara kitab-kitab hadis)

25/05/2025

Peran Agama dalam Pendidikan Islam

 A. Pendahuluan

Agama memiliki kedudukan dan peran yang sangat penting dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pengakuan akan kedudukan dan peran penting agama ini tercermin dari penetapan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama falsafah negara Pancasila, yang juga dipahami sebagai sila yang menjiwai sila-sila Pancasila lainnya. Pendidikan Islam merupakan suatu upaya yang terstruktur untuk membentuk manusia yang berkarakter sesuai dengan konsekuensinya sebagai seorang muslim. Istilah pendidikan Islam dapat dipahami dari tiga sudut pandang. Pertama, pendidikan agama Islam. Kedua, pendidikan dalam Islam. Ketiga, pendidikan menurut Islam. Dari kerangka akademik ketiga sudut pandang tersebut harus dibedakan dengan tegas karena ketiganya akan melahirkan disiplin ilmu sendiri-sendiri.

Pendidikan agama Islam menunjukan kepada proses operasional dalam usaha pendidikan ajaran-ajaran agama Islam. Pendekatan ini kelak menjadi bahan kajian dalam ilmu pendidikan Islam teoritis. Sedangkan pendidikan dalam Islam bersifat sosiohistoris dan menjadi bahan kajian dalam sejarah pendidikan Islam. Selanjutnya pendidikan menurut Islam bersifat normatif dan menjadi bahan kajian dalam filsafat pendidikan Islam.

Jadi pada dasarnya pendidikan Islam menanamkan akhlak yang mulia kedalam jiwa anak dalam masa pertumbuhannya dan menyiraminya dengan petunjuk dan nasihat, sehingga akhlak mereka menjadi salah satu kemampuan yang meresap dalam jiwanya dan mewujudkan keutamaan, kebaikan, dan cinta bekerja bagi kemanfaatan tanah air.

B. Dasar Pelaksanaan

Pelaksanaan pendidikan Islam dalam arti luas di bumi Pancasila ini mempunyai latar belakang sejarah dan kebudayaan bangsa yang tiang pertamanya dipancangkan pada abad ke-8 Masehi. Sampai saat ini pendidikan Islam telah berkembang dalam kurun waktu 12 abad lamanya di Indonesia. Pendidikan secara kultural pada umumnya berada dalam lingkup peran, fungsi dan tujuan yang tidak jauh berbeda, yakni berusaha mengangkat dan menegakan martabat manusia melalui transmisi yang dimilikinya, terutama dalam bentuk transfer of knowledge dan transfer of Values.

Hal ini juga merupakan jangkauan dalam pendidikan Islam yang merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional, sekalipun dalam pelaksanananya terdapat diskriminasi secara struktural, seperti keberadaannya dibawah Kementerian Agama untuk lembaga pendidikan agama atau madrasah dan sejenisnya, sedangkan pendidikan umum berada dalam Departemen Pendidikan Nasional[2]. Dengan demikian, keberadaan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 2 tahun 1989, merupakan wadah formal supaya terintegrasinya pendidikan Islam dalam system pendidikan nasional dan dengan wadah tersebut, pendidikan Islam mendapat peluang serta kesempatan untuk terus dikembangkan. Peluang dan kesempatan untuk berkembang dapat dilihat dalam undang-undang tersebut.

C. Nilai dalam Pendidikan n yang Diajarkan Islam

Analisis nilai-nilai yang diajarkan dalam pendidikan Islam, seperti keadilan, toleransi, dan kasih sayang, menunjukkan kontribusinya dalam membentuk karakter dan moral siswa serta memberikan landasan untuk pembangunan masyarakat yang berkeadilan. Pendidikan Islam memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai moral dan etika yang mendalam kepada siswanya. Analisis terhadap nilai-nilai yang diajarkan dalam pendidikan Islam, seperti keadilan, toleransi, dan kasih sayang, mengungkapkan kontribusinya yang signifikan. dalam membentuk karakter dan moral siswa. Keadilan merupakan nilai yang mendasar dalam ajaran Islam, yang mengajarkan pentingnya perlakuan yang adil terhadap semua individu tanpa memandang perbedaan[3].

Dalam pendidikan Islam, siswa diajarkan untuk berperilaku adil dalam segala aspek kehidupan, mulai dari interaksi sosial hingga pengambilan keputusan, sehingga memupuk sikap bertanggung jawab dan menghormati hak-hak orang lain. Toleransi adalah nilai yang sangat penting dalam Islam, yang mengajarkan kesediaan untuk menerima perbedaan dan memahami sudut pandang orang lain. Dalam konteks pendidikan, nilai toleransi diajarkan kepada siswa agar mereka dapat hidup berdampingan dengan harmonis di tengah keberagaman masyarakat. Hal ini membantu mengurangi konflik dan meningkatkan kerjasama antar individu yang berasal dari latar belakang yang berbeda.

D. Peran Agama dalam Pendidikan Islam

Agama seabagai sistem keyakinan dapat menjadi bagian dan inti dari sistem-sistem nilai yang ada dalam kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan, dan jadi pendorong atau penggerak serta pengontrol bagi tindakan-tindakan pada anggota masyarakat tersebut untuk tetap berjalan sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan dan ajaran Agamanya. Dalam keadaan dimana pengaruh ajaran-ajaran Agama itu sangat kuat terhadap sistem-sistem nilai yang ada dalam kebudayaan masyarakat yang bersangkutan.

      Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah-sekolah/Madrasah-madrasah memiliki tujuan sebagaimana dipaparkan diatas[4], yaitu: untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan, dan pengalaman peserda didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Yang menurut Muslich termasuk salah satu mata pelajaran yang mengembangkan karakter bangsa.

Betapa pentingnya pembentukan kepribadian sebagai basic pembentukan karakter, mengingat kepribadian menurut Darajat (1983) sangat menentukan. Jika kepribadian utuh dan jiwanya sehat, maka ia akan menghadapi semua masalah itu dengan tenang. Kepribadian yang di dalamnya terkandung unsur–unsur agama dan keimanan yang cukup teguh, maka masalah tersebut akan dihadapinya dengan tenang. Unsur terpenting yang membantu pertumbuhan dan perkembangan kejiwaan seseorang adalah Iman yang direalisasikan dalam bentuk ajaran agama. Maka dalam agama Islam prinsip pokok yang menjadi sumbu kehidupan manusia adalah Iman. Karena iman itu menjadi pengendali sikap, ucapan, tindakan dan perbuatan[5].

Selain itu terkait hal ini menurut Ma’arif (2005) nilai-nilai akhlak atau sering disebut juga etika tidak boleh dilepaskan atau diabaikan dalam pendidikan. Karena salah satu fungsi pendidikan adalah menumbuhkan nilai kebaikan pada peserta didik. Bila masalah ahklak ini tidak diberikan perhatian yang proposional, maka akan membawa manusia kepada malapetaka bagi kehidupannya. Sehingga yang terjadi adalah “dehumanisasi” Pendidikan yang tidak mengajarkan akhlak hanya dengan melahirkan manusia buaya, tapi tidak berbudaya, cerdas tapi beringas seperti hewan, dan akhirnya menjadi manusia yang teralienasi/asing dari sesama manusia dan Tuhannya.

Dalam pendidikan agama Islam nilai-nilai yang diinternalisasikan sebagai upaya pembentukan kepribadian peserta didik sebagai generasi bangsa meliputi: nilai Al-Qur’an, Akidah/Keimanan, Syariah/Hukum-hukum fiqih, Akhlak/Budi pekerti, dan Tarikh/Sejarah Islam. Sehingga dengan tertanamnya nilai-nilai tersebut pada diri mereka, diharapkan mereka akan memiliki mental kepribadian yang tangguh menghadapi segala tantangan kehidupan yang menerpanya, termasuk “Alienasi”.

D. Kesimpulan

Terlepas dari nilai-nilai agama yang menjadi dasar dari pendidikan nasional, pendidikan agama sempat menjadi masalah ketika masuk dalam sistem pendidikan nasional. Persoalan yang diperdebatkan adalah posisi pendidikan agama tertentu dalam lembaga-lembaga pendidikan yang memiliki latar belakang pemihakan pada agama tertentu. Misalnya, pada lembaga pendidikan muslim terdapat siswa yang bukan muslim, mungkinkah bisa diajarkan pendidikan agama lain pada lembaga tersebut dan atau sebaliknya.

Daftar Pustaka


Achmad, Ghufran Hasyim, Kedudukan Kurikulum Dalam Pendidikan Agama Islam, Yasin : Jurnal Pendidikan Dan Sosial Budaya, Volume 1, Nomor 2, Desember 2021

Adri, Saleh, Pendidikan Islam Dan Kedudukannya Di Indonesia, Journal Ability : Journal Of Education And Social Analysis, Volume 3, No 3, July 2022

Assegaf, Abdur Rahman dkk, 2007, Pendidikan Islam di Indonesia. (Yogyakarta: Suka Press)

Fachri. Moh., Peran Agama Dan Pendidikan Agama Islam Sebagai Solusi Alternatif Menemukan Jati Diri Terhadap Alienasi Dampak Modernisasi, Jurnal Pedagogik, Vol. 04 No. 02, Juli-Desember 2017

Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, 2014, (Jakarta: Rajawali Pers)

Nasimuddin, Dkk, Kedudukan Pendidikan Islam Dalam Sistem Pendidikan Nasional, Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, Volume 9, Nomor 2, 2024

Siregar, Hilda Darmaini Dan Zainal Efendi Hasibuan, Pendidikan Agama Islam: Pengertian, Tujuan, Dasar, Dan Fungsi, Intelletika: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Vol.2, No.5 September 2024



[1] Saleh Adri, Pendidikan Islam Dan Kedudukannya Di Indonesia, Journal Ability : Journal Of Education And Social Analysis, Volume 3, No 3, July 2022, Hal 182

[2] Saleh Adri, Pendidikan Islam Dan Kedudukannya Di Indonesia, Hal 183

[3] Nasimuddin, Dkk, Kedudukan Pendidikan Islam Dalam Sistem Pendidikan Nasional, Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, Volume 9, Nomor 2, 2024, Hal 1358

[4] Moh. Fachri, Peran Agama Dan Pendidikan Agama Islam Sebagai Solusi Alternatif Menemukan Jati Diri Terhadap Alienasi Dampak Modernisasi, Jurnal Pedagogik, Vol. 04 No. 02, Juli-Desember 2017, Hal 130

[5] Moh. Fachri, Peran Agama Dan Pendidikan Agama Islam Sebagai Solusi Alternatif Menemukan Jati Diri Terhadap Alienasi Dampak Modernisasi, Hal 131